Cerita UMPTN, SPMB, SNMPTN, atau apalah namanya.
Author: admin smadapozoner // Category: Pengalaman*artikel ini menjurus pada kesombongan, arogansi diri, dan memuji diri yang dilarang oleh nilai moral dan nilai agama. Tapi pada saat ini saya sudah jauh dari sifat-sifat tersebut, serta menjunjung tinggi integritas.
Kemaren-kemaren, saya sempet baca postingan salah satu sahabat STEI saya, Julie, tentang pengalaman dia ikut SPMB yang ternyata sempet ngebuat saya nostalgia jaman-jaman jahiliyah remaja dulu sewaktu masih kelas 3 SMA. Pada saat itu, namanya hidup sebagai siswa 3 IPA bener-bener serba nanggung,
kalau mau belajar : guru sampah semua suasana sekolah gak kondusif,
kalau mau main : gak ada temen buat diajak main, sok sibuk belajar semua!
Dalam kehidupan saya sehari-hari, saya masuk sekolah pagi : jam setengah enam, lanjut maki-maki guru di kelas (yang pasti gak terang-terangan), puas ngemaki guru, istirahat deh, terus maki-maki guru lagi (second leg), nah baru pulang deh. Pulang sekolah, saya langsung cepet-cepet pergi ke lapangan basket. Buat Sholat? Bukan, maen bola!
*ngemaki-maki guru bukan berarti saya menghina guru setiap saat, dalam waktu itu dapat juga ada kegiatan tak berguna lainnya, seperti ngobrol, ataupun main kartu. Tapi setiap melakukan aktivitas tersebut, pasti (akan) keluar kata-kata untuk memaki guru, jadi aktivitasnya dinamakan “maki-maki guru”. Tapi sekarang saya sudah tobat dan semoga Tuhan bisa mengampuni saya, amiin.
Setidaknya aktivitas rutin tersebut yang bisa menolong saya untuk tetap hidup, di bawah kondisi “derita 3 IPA, hidup segan mati tak mau”. Kalau ada yang nanya mau nerusin kuliah di mana, langsung saya jawab dengan pede+arogannya (padahal otak bego, go, go) : STEI-ITB (jurusan yang merupakan jurusan favorit dari dulu, hingga saat ini, dan pasti di masa depan). Sebagai orang yang reputasi kebegoannya cukup tinggi (maksudnya gak pernah jadi top student), jelas temen-temen saya langsung bilang, “Wessssss, tinggi pisan (pisan = banget).” Sambil diketawain haha-hihi (gak tau emang ketawa gara-gara saya si goblok bermimpi besar atau itu merupakan apresiasi untuk mendukung saya).





